Kasus Dian-Randy dan iPad Sang Presiden

Juli 11th, 2011 by anwarkis

Beberapa hari terakhir mencuat kasus dugaan penipuan yang dilakukan oleh dua alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), Dian (42) dan Randy (29). Keduanya ditangkap polisi lantaran menawarkan 2 buah iPad 3G Wi Fi 64 GB di forum jual beli Kaskus. Alasannya, tablet tersebut tidak memiliki buku petunjuk manual berbahasa Indonesia.

Kasus ini pun bergulir. Muncul pro dan kontra di masyarakat dan aparat. Banyak kalangan menyebut keduanya tak perlu dihukum. Tapi ada juga yang berpendapat keduanya harus dihukum karena melanggar Undang-undang Perlindungan Konsumen.

Seperti halnya pendapat pengamat hukum teknologi informasi dari ICT Watch Rapin Mudiardjo. Menurutnya, polisi sebenarnya bisa saja menggunakan UU Perlindungan Konsumen karena iPad yang dijual Randy dan Dian tidak memiliki buku petunjuk manual berbahasa Indonesia. Namun pasal itu bisa dikenakan jika ada konsumen yang merasa dirugikan.

“Kalau memang mau menggunakan UU Perlindungan Konsumen, harus ada laporan dari konsumen yang merasa dirugikan. Kalau tidak ada ya tidak bisa dikenai pakai pasal itu,” kata Rapin kepada detikcom, Senin (4/7/2011) kemarin.

Sementara kepolisian berdalih penangkapan Randy dan Dian sudah sesuai prosedur dan aturan perundang-undangan yang berlaku. Menjual iPad tanpa dilengkapi dengan manual berbahasa Indonesia, itu artinya ‘berdosa’.

“Saya tanya ke mereka, betul nggak mereka memperdagangkan iPad tanpa sertifikasi? Terus mereka bilang betul. Kalau betul, salah tidak dengan begitu (ditangkap). Apalagi dia orang berpendidikan,” ujar Kepala Satuan Industri dan Perdagangan (Indag) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya AKBP Sandy Nugroho kemarin.

“Tidak semua iPad itu ilegal, dengan catatan sudah ada sertifikasi dan manual book berbahasa Indonesia,” kata dia menambahkan.

iPad jenis iPad 3G 64 gb telah bersertifikasi sejak 24 November 2010. Sehingga, jika sertifikasi tersebut sudah keluar, harusnya pasal 32 ayat 1 UU Nomor 8 Tentang Telekomunikasi tidak bisa dikenakan kepada Dian dan Randy.

“iPad 1 3G 64 gb sertifikasinya telah keluar pada 24 November 2010,” kata Humas Kemenkominfo Gatot S Brata kepada detikcom kemarin.

“Berdasarkan pasal itu, tiap perangkat komunikasi itu harus disertifikasi oleh Kominfo, setiap jenis dari perangkat itu harus mendapatkan masing-masing satu sertifikasi,” kata Gatot.

Berbicara soal iPad, publik beberapa waktu lalu juga dihebohkan dengan pemakaian alat canggih tersebut oleh orang nomor satu di negeri ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam beberapa kesempatan, termasuk saat jumpa pers, Presiden tampil menggunakan alat canggih besutan Apple tersebut.

Seperti saat memimpin rapat paripurna kabinet 31 Agustus 2010 lalu, Presiden tampak asyik menggunakan iPad saat memimpin rapat. Poin-poin sambutan dia tulis di iPad, sehingga tak perlu lagi memakai teks atau pun teleporompter.

Penampilan Presiden dengan gadget barunya tersebut mendapat kritikan tajam, terutama di Twitter. Apalagi saat itu iPad belum resmi beredar di Indonesia.

Menyikapi kritikan tersebut, Presiden tak kehilangan akal. Ditutupnya lambang Apple dengan sticker bergambar Garuda Pancasila. Namun demikian, cara itu tak menyurutkan publik yang terus mengkritik Presiden.

Akhirnya, belakangan Presiden SBY tidak pernah lagi menggunakan iPad. Presiden lebih sering membawa catatan tertulis dalam setiap pidatonya. Jika acara formal, Presiden terkadang menggunakan alat bantu teleporompter.sbyipad

Pidato SBY dalam Bahasa Inggris, Kadang Lucu Tapi Banyak yang Diulang

Juni 3rd, 2011 by anwarkis

sbygnbbali-d2

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belakangan sering berpidato dalam Bahasa Inggris. Maklum, Indonesia akhir-akhir ini sering menjadi tuan rumah acara-acara internasional. Mulai dari KTT ASEAN hingga acara konferensi tingkat menteri (KTM) ke-16 Gerakan Non Blok (GNB) di Grand Hyatt Hotel, Nusa Dua, Bali.

Sebagai kepala negara, tentunya Presiden selalu memberikan sambutan dalam setiap acara sebagai keynote speaker. Isi sambutan SBY kebanyakan tentang kemajuan-kemajuan yang dialami oleh Bangsa Indonesia, mulai dari kemerdekaan pers, penegakan HAM, sampai pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Namun tak lupa dalam pidatonya, SBY menyelipkan beberapa joke yang membuat peserta yang rata-rata adalah bule tertawa dan bertepuk tangan atas lelucon SBY yang dia baca dari alat bantu bernama teleprompter.

Saat menjadi keynote speech dalam acara Business for the Environment yang berlangsung di Hotel Sangri La, Jakarta, Kamis (28/4/2011), SBY disambut tawa ratusan hadirin yang umumnya warga asing lantaran pidatonya dianggap lucu.

“Anda telah memilih tempat yang tepat untuk sebuah konferensi global terhadap perekonomian hijau. Kami sekarang berada di tengah-tengah kampanye ambisius untuk menanam 1 miliar. Ya, 1 miliar pohon di seluruh Indonesia. Jika ada yang tertarik untuk menanam pohon di bawah nama Anda, beritahu kami,” ujar SBY isambut tawa hadirin yang umumnya adalah bule.

Dalam sambutannya kepada peserta Overseas Private Invesment Corporation (OPIC) di Hotel Sangri La 4 Mei lalu, SBY sempat mengeluarkan canda.

“Saya ingin menyampaikan penghargaan saya kepada Overseas Private Investment Corporation untuk pekerjaan yang sangat baik dalam mengorganisir pejabat pemerintah dan masyarakat bisnis. Pertanyaan saya adalah apa yang membawa kalian begitu lama untuk ke sini (Indonesia)?” kata SBY dalam bahasa Inggris disambut tawa ratusan pengusaha Amerika.

SBY kembali membuat lelucon dan membuat tertawa para hadirin saat mempromosikan Indonesia di hadapan para pengusaha AS.

“By the way, Duta Besar Dino Patti Djalal saat ini masih bekerja agar Oprah Winfrey mengatakan sesuatu tentang Indonesia,” kata SBY saat memberikan sambutan di hadapan ratusan pengusaha Amerika Serikat di Ballroom Hotel Sangri La, Jakarta, Rabu (4/5/2011).

Ucapan SBY itu langsung disambut tawa oleh ratusan pengusaha, termasuk Dino Patti Djalal yang juga berada di ruangan itu.

Meski banyak menimbulkan tawa, pidato SBY dalam bahasa Inggris kadang sering diulang-ulang. Dalam acara Business for the Environment dan Overseas Private Invesment Corporation (OPIC) yang keduanya sama-sama berlangsung di Hotel Sangri La, isi sambutan SBY tak jauh beda, terutama yang menyangkut masalah ekonomi.

Kini, pidato SBY yang sering menggunakan bahasa Inggris tersebut mendapat kritikan. Sebagai kepala negara, Presiden diminta untuk bangga dengan Bahasa Indonesia dengan berpidato dalam Bahasa Indonesia. SBY juga dianggap melanggar UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

“Menurut UU 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, khususnya pasal 28 menyebutkan, bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi Presiden, Wakil Presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri,” kata pengamat hukum internasional, Hikmahanto Juwana kepada detikcom, Rabu (25/5/2011) kemarin.
Namun atas sejumlah aturan penggunaan Bahasa Indonesia bagi pejabat negara itu, agar tidak terulang lagi pelanggaran UU, Hikmahanto memberi solusi UU tersebut diamandemen.

“Oleh karenanya UU 24/2009 perlu ditinjau ulang dan diamandemen sehingga memungkinkan Presiden menggunakan bahasa Inggris dalam event-event internasional di Indonesia,” tuturnya.

Hari Ini, 13 Tahun Lalu

Mei 12th, 2011 by anwarkis

Tanggal 12 Mei 1998 atau tepatnya 13 tahun lalu merupakan hari bersejarah bagi perjalanan Bangsa Indonesia. Sebuah rezim otoritarian yang telah berkuasa selama 32 tahun akan roboh, diawali dengan meninggalnya empat mahasiswa Universitas Trisakti yaitu Elang Surya Lesmana, Hafidin Royan, Hendriawan Sie, Hery Hartanto.demo-bentrok-d

“Mereka menjadi pahlawan reformasi dari sebuah perubahan untuk menuju Indonesia yang lebih baik,” kata Sekretaris Jenderal Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Indonesia Dhika Yudistira dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (12/5/2011).

Tiga belas tahun reformasi bergulir, menurut Dhika kasus terbunuhnya empat pahlawan reformasi terbengkalai tanpa sebuah kejelasan. Pemerintah berganti sejak reformasi bergulir, namun kasus ini tak kunjung selesai. “Parahnya kasus ini sengaja dilupakan oleh pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab,” tuding Dhika.

Hingga detik ini, imbuhnya, para aktor yang dianggap berperan dalam kasus penembakan empat mahasiswa Trisakti tersebut masih melenggang. “Sebut saja mantan Panglima TNI ketika itu Wiranto, Prabowo Subianto dan Timur Pradopo yang pada waktu itu menjabat sebagai Kapolres Jakarta Barat, bebas menghirup udara segar di luar sana tanpa proses hukum terkait peristiwa 13 tahun lalu,” sindirnya.

Padahal, menurut Dhika, tokoh-tokoh inilah yang seharusnya bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

“Pemerintah sebagai otoritas tertinggi di negara ini termasuk Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemangku kekuasaan kami anggap gagal dan tidak becus dalam menjalankan amanatnya sebagai Presiden karena ketidaktegasannya menindak pelaku pelanggar HAM 13 tahun lalu,” kecam Dhika.

SBY, yang sudah dua priode menjabat sebagai Presiden, menurut Dhika tak kunjung membuat langkah-langkah konkret atas pelanggaran tersebut. “SBY telah menghianati salah satu butir amanat reformasi yaitu supermasi di bidang hukum,” tegasnya.

Untuk itu, Lisuma Indonesia menuntut dua hal: adili para aktor di balik tragedi 12 Mei 1998 dalam hal ini Wiranto, Prabowo dan Timur Pradopo, serta adili pelanggar HAM dan copot jabatan para pelaku pelanggar HAM demi tegaknya supremasi hukum dan keadilan.

“Lisuma Indonesia Menyatakan bahwa Susilo Bambang Yudoyono gagal menjalankan amanatnya sebagai presiden Republik Indonesia dan telah berhianat terhadap agenda reformasi yang hingga detik ini tidak memiliki niat dan fokus untuk menuntaskan kasus 12 Mei 1998,” tutup Dhika.

Naik KRL ke Bogor, Mulai dari Salah Gerbong Sampai Salah Beli Tiket

April 25th, 2011 by anwarkis

Senin 18 April saya semangat sekali. Bukan karena hari itu gajian, tapi lantaran saya akan naik kereta untuk liputan ke Istana Bogor. jarang sekali naik kereta di Jakarta, apalagi untuk sebuah liputan: tidak pernah malah.

Harusnya, saya naik manwar11obil pregio yang disediakan pihak Istana Kepresidenan untuk meliput rapat kerja ekonomi di Istana Bogor. Tapi yang bikin males, harus ngumpul jam setengah 6 pagi di istana, padahal kan acara di Bogor baru jam 2 siang. Akhirnya, mencoba naik kereta menjadi pilihan menarik.Tak perlu berangkat pagi-pagi untuk naik KRL.

Kebetulan kos saya tak jauh dari Stasiun Cawang. Tiba di Stasiun Cawang jam 10.00 WIB. Saya sempat tanya dulu kepada tukang ojek apakah ada kereta yang langsung ke Bogor. Ternyata ada, dan memang kata teman saya juga ada kereta AC Ekonomi jurusan Jakarta Bogor..Saya pun beli tiket dengan santai…

“Tapi kok harganya cuma Rp 2.000 ya.” tanya saya dalam hati. Ah, memang mungkin harganya segitu, namanya juga kereta ekonomi, meski ber AC. Maklum, ini kali kedua saya naik KRL selama 4 tahun lebih di Jakarta. Tepat pukul 10.30 kereta yang saya tunggu tiba….wus wus……

Pas naik gerbong, ternyata kursi sudah penuh ditempati para penumpang..Saya pun bergelantungan di tempat yang disediakan…Tapi kok orang-orang pada memandangi saya ya? “Apakah saya terlalu rapi untuk naik kereta AC Ekonomi?” dalam hati saya terlalu confidence. haha..

“Mas-mas, salah gerbong, ini khusus gerbong untuk perempuan…” teriak ibu-ibu setengah baya. Owalah, saya baru nyadar, ternyata heboh-heboh berita soal gerbong untuk perempuan, benar adanya. Saya pun kabur nyari gerbong lain.

Tiba di gerbong lain, eh ternyata ada sesama wartawan Istana yang juga berangkat naik kereta. Ada Mas Teguh Eslhinta, Dodo fotografer Antara, Bunga dan Muno yang sama-sama wartawan tempo, dan Mbak Camelia, wartawan Jakarta Globe. Di kereta itu, saya merasa seperti nunggu SBY sidang kabinet, lantaran banyak ketemu wartawan Istana. :)

Tiba saat pengecekan karcis oleh petugas, saya sih santai saja. Saya beli karcis kok, nggak kayak bonek-bonek yang nangkring di atas kereta. Tapi saat dua temen saya mengeluarkan karcis warna ijo dan ada tulisannya harga Rp 5.500, saya mulai panik. Tapi dalam hal apapun, seorang wartawan tak boleh panik, harus mengeluarkan jurus-jurus maut agar tidak malu (padahal dalam hati malu banget).

Saat mengeluarkan tiket yang cuma seharga Rp 2.000, saya bilang ke petugas itu kalau saya tadi udah bilang ke loket kalau saya beli tiket AC ekonomi. Saya pun pasrah menerima sanksi apapun dari petugas securiti yang sebenarnya kerempeng itu. Akhirnya saya diminta untuk membayar denda dua kali lipat dengan membeli tiket suplisi atau apa itu lupa namanya.

Lucunya, sang petugas kok malah yang kelihatan malu-malu ya nagih ke saya. Saat saya membayar dan dan dapat tiket baru, temen saya mengabadikan pake kamera BB, sang petugas tambah tersipu-sipu malu. Kalau tau kita wartawan, mungkin kita digratisin. Tapi apakah harga diri kita mau ditukar dengan Rp 10.000? Tentu tidak!! hehe

Sepanjang perjalanan hingga akhirnya sampai ke Bogor, saya dan teman-teman pun ngakak mengingat kejadian yang memalukan itu.

“Yang salah itu kamu, tapi kok kamu nggak malu, malah petugasnya yang malu-malu nagih,” kata teman saya.

“Malu cukup dalam hati saja,” bisik saya dalam hati…

Lamanya Menunggu Presiden Bicara

April 7th, 2011 by anwarkis

sby-merapi2

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hari ini dijadwalkan berpidato mengenai gedung baru DPR dan beberapa isu penting lainnya. Namun entah kenapa jadwal pidato Presiden tidak pasti, berubah-ubah dalam hitungan menit saja.

Awalnya, para jurnalis yang biasa meliput di Istana Presiden diminta untuk standby di pressroom Istana pada pukul 08.00 WIB, Kamis (7/4/2011). Sementara pada jam tersebut, Presiden SBY dan beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II menggelar rapat terbatas di Kantor Presiden.

Pada pukul 08.30 WIB, wartawan baru diperkenankan masuk ke Kantor Presiden. Di tempat SBY ngantor itu, wartawan diminta standby di tempat biasa Presiden menggelar jumpa pers. Rencananya jumpa pers akan berlangsung sebelum Pangeran Andrew dari Inggris berkunjung ke Istana.

Namun pada pukul 10.30 WIB, Juru Bicara Kepresidenan Bidang Dalam Negeri Julian Aldrin Pasha turun dari lantai 2 Kantor Presiden, dan memberitahukan bahwa Presiden akan memberikan keterangan usai bertemu dengan Pangeran Andrew. Pertemuan antara SBY dan Pangeran Andrew berlangsung pukul 11.00 WIB di Istana Merdeka.

“Keterangan Presiden diundur sampai nanti setelah pertemuan dengan Pangeran Andrew,” Juru Bicara Presiden Bidang Dalam Negeri Julian Aldrin Pasha.

Para jurnalis yang sudah siap jumpa pers pun langsung pindah ke Istana Merdeka untuk meliput kedatangan Pangeran Andrew. Persiapan live dua stasiun TV nasional yang rencananya akan dilakukan di lantai satu Kantor Presiden pun akhirnya dipindah ke lantai dua.

Jarak antara kantor Presiden dan Istana Merdeka sekitar 100 meter.

Usai meliput pangeran Andrew sekitar kurang lebih setengah jam, wartawan diminta kembali ke Kantor Presiden. Setelah menunggu beberapa saat, para jurnalis diminta untuk naik ke lantai dua tempat Presiden menggelar rapat dengan sejumlah menteri.

Tampak dalam ruangan rapat terbatas, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Menko Kesra Agung Laksono, serta Seskab Dipo Alam.

Kamera dan mic para jurnalis pun telah dimasukkan ke ruangan rapat terbatas itu. Sementara para wartawan menunggu di luar ruangan rapat terbatas sambil duduk lesehan dan ngobrol santai.

Tak lama kemudian, para jurnalis yang telah menunggu lama tersebut diminta untuk turun kembali ke lantai satu Kantor Presiden.

“Presiden akan rapat terbatas lagi,” kata salah seorang anggota Paspampres.

Hingga pukul 12.10 WIB, rapat masih berlangsung. Acara jumpa pers Presiden yang terus menerus diundur ini pun menimbulkan tanda tanya. Padahal rencananya jam 13.30 WIB SBY sudah harus di halim untuk terbang ke bali untuk menghadiri acara menteri keuangan se-ASEAN.

Chaiyya! Anggota Brimob Nyanyi Lagu India

April 4th, 2011 by anwarkis

brimob-india1

Brimob juga manusia. Saat jenuh melanda, menghibur diri dengan bernyanyi mungkin sah-sah saja dilakukan. Video Youtube terbaru yang menampilkan anggota Brimob berdendang lagu India, kini jadi saingan Shinta dan Jojo. Chaiyya! Chaiyya!

Video ini menampilkan seorang anggota Brimob yang sedang piket, kemudian berdendang lagu India. Lagu pilihannya pun tidak tanggung-tanggung, ‘Chaiyya, Chaiyya’ yang dinyanyikan Shahrukh Khan di film Dil Se tahun 1998. Video kemungkinan direkam dengan ponsel dengan suasana sebuah pos jaga.

Aksi diawali dengan sang Brimob menghisap sebatang rokok, dilanjutkan dengan gerakan tangan, kepala, badan, dan kemudian, “Chaiyya-chaiyya..” Mulailah sang anggota Brimob menyanyi.

Polisi berpangkat Briptu ini rupanya hapal betul lirik ‘Chaiyya, Chaiyya’. Meski hanya bibirnya yang bergerak, lip sync-nya sangat pas dan sempurna.

Namanya juga lagu India, tidak pas kalau tidak sambil bergoyang. Anggota Brimob ini pun dengan terampil bergoyang India mengikuti ketukan irama dan lirik lagu, tidak kalah dengan gaya Shahrukh Khan. Hebatnya, semua gaya dia lakukan tanpa harus bangun dari tempat duduknya.

Lucunya, selama lagu ini diputar, teman yang duduk di sebelah Brimob ‘Shahrukh Khan’ ini tidak bereaksi. Dia tampak cuek dan terus memainkan ponsel. Tak lama kemudian, datang lagi satu anggota Brimob. Dia juga cuek, tak memperhatikan temannya yang lagi girang berdendang India. Sesekali, sang biduan ini menggoda temannya yang tampak serius menatap ponsel di tangannya.

Video ini bertajuk ‘Polisi Gorontalo Menggila’ yang belum genap seminggu diposting oleh user bernama Ivhalmarley pada 29 Maret 2011. Namun dalam video tersebut, tidak ada tanda-tanda yang menunjukan kalau lokasi itu bertempat di Gorontalo. Nama sang penyanyi pun tertutup oleh holster hitam yang menjadi bagian dari seragamnya.

Saat detikcom berkunjung di laman ini, Minggu (3/4/2011), sudah 5.600 orang yang menonton video kocak ini. Mereka semua memberikan pujian dan merasa terhibur dengan gaya kocak anggota Brimob ini.

“Hebat, ekpresif skali. Salute. Tetap melayani masyarakat, sekali-sekali menghibur juga,” puji Abbit.

“Yang salut yang sebelahnya tuh… Posenya nggak ada berubah, cuek walau tuh temennya jingkrak-jingkrak nggak karuan… Wkwkwkwkwk..,” kata pengunjung lain, Jabo.

Uniknya, mereka tidak ada yang mencaci. Malah mereka memaklumi kalau Brimob juga seorang manusia biasa yang bisa jenuh saat sedang berjaga.

“Polisi juga manusia biasa, kalo udah jenuh bekerja perlu refreshing. Refreshing yang menyegarkan dan mengibur banyak orang. Daripada nabokin orang kan mending begini. Salut deh!! Kalah deh Sinta ama Jojo,” kata BuzzyBaskoro.

Akankah sang Brimob ini bisa setenar Shinta dan Jojo? Kita tunggu saja.

SBY, Wikileaks dan Tsunami Pencitraan

Maret 12th, 2011 by anwarkis
kamu kamu kamu...

kamu kamu kamu…

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin mendapatkan \’cobaan\’. Di tengah hubungan baik antara pemerintah Indonesia dan Australia sedang dirajut, ada sedikit \’kerikil\’ yang cukup membuat citra Presiden SBY tercoreng.

Dua media berpengaruh di Australia, The Age dan The Sydney Morning Herald memberitakan tuduhan terhadap Presiden SBY yang dianggap telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Menggunakan sumber kawat Wikileaks, dua media itu menulis Presiden SBY memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan politik.

Tak cuma mencatut SBY, berita The Age juga menyebut Ibu Ani Yudhoyono juga mempunyai peran aktif dalam mempengaruhi kebijakan politik suaminya. Ani Yudhoyono juga disebut mempunyai hubungan baik dengan para pengusaha, termasuk pengusaha kaya Tomy Winata.

Apa jawaban Istana? Pastinya membantah. Bantahan secara betubi-tubi dilancarkan oleh Istana, mulai dari Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Luar Negeri, Teuku Faizasyah, Staf Khusus Bidang Dalam Negeri Julian Aldrin Pasha, serta para menteri, termasuk putra bungsu SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) juga membantah.

\”Presiden sangat keget. Kita tidak tahu motif berita itu apa. Jadi yang disesalkan adalah ketidakvalidan data,\” kata Juru Bicara Presiden SBY Bidang Dalam Negeri, Julian Pasha, saat ditanya reaksi Presiden pertama kali saat membaca berita The Age di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Sabtu (11/3/2011) kemarin.

\”Kami juga kesulitan karena tidak dilengkapi data. Banyak nama, bukan hanya Presiden SBY dan Ibu Negara yang disebutkan. Beliau kaget dan sangat takut apakah itu beritanya nemu di jalan atau bagaimana,\” papar Julian dengan mimik serius.

Tak biasanya, putra bungsu SBY, Ibas yang kalem dan jarang berkomentar di media kemarin berkomentar lantang membela orangtuanya.

\”Itu ngawur seribu persen. Subhanallah. Tuduhan penyalahgunaan kekuasaan itu sama sekali tidak benar,\” kata Ibas saat dihubungi detikcom kemarin. \”Kita menyayangkan sekali. Itu sesat, mengarah pada fitnah, pencemaran nama baik kepada pribadi maupun institusi,\” Ibas melanjutkan.

Soal tudingan The Age bahwa Tomy Winata (TW), bos Artha Graha, punya koneksi ke keluarga SBY, Ibas punya jawaban khusus.

\”Saya tinggal bersama kedua orang tua saya sudah lama. Tanpa konfirmasi dari beliau, saya juga sudah ngerti pola kerja Bapak SBY, jadi berita itu ngawur,\” sangkal Ibas.

\”Kalau segala sesuatu dikaitkan kepada Pak SBY dan Bu Ani, apalagi tidak sesuai data dan fakta, geram juga mendengar seperti itu,\” kata Ibas bersemangat.

Tak cuma Ibas yang marah. Istri tercinta SBY, Ani Yudhoyono juga marah. Kemarahan dan kesedihan Ibu Ani atas pemberitaan yang dianggap tidak berdasar itu pun diungkapkan secara alamiah: dengan menangis.

\”Ibu negara menangis,\” kata Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi usai Salat Jumat di Istana kemarin.

Presiden SBY pun juga tampak tak happy. Saat di Istana kemarin, SBY terlihat tak ceria. Naik mobil golf di kompleks Istana Presiden, SBY tampak serius membaca secarik kertas, tanpa tawa.

Pemberitaan yang membombardir Presiden beserta keluarganya ini, bak tsunami yang menghancurkan pemerintah SBY yang selama ini dituding oleh berbagai pihak getol melakukan pencitraan. Kita tunggu reaksi Istana selanjutnya!

Sarapan Garing Bareng Mendiknas

Februari 28th, 2011 by anwarkis

m-nuh-cov11Dua hari ini saya terdampar di Istana Bogor. Ngapain lagi kalau bukan meliput Presiden SBY. Awalnya sih saya mengira liputan cuma satu hari, jadi tidak ada persiapan bawa apa-apa, termasuk ‘onderdil’ penting! Tapi ternyata, acara rapat kerja bareng menteri dan semua gubernur berlangsung selama dua hari.

Seperti wartawan Istana lainnya, saya juga mau pulangs ebenarnya di malam pertama. Karena yang dapat jatah nginep di Bogor adalah wartawan-wartawan media plat merah. Tapi apa boleh buat, salah seorang wartawan plat merah yang mendapat jatah kamar hotel harus pulang untuk imunisasi buah hatinya, diwariskanlah kamar itu kepadaku. Alhamdulillah..heheh

Karena cuma bawa baju yang melekat di badan, sementara harus nginep di Bogor, saya pun membeli baji sepotong dan onderdil dalam di sebuah supermarket yang terletak di dekat Istana Bogor. Kancut dan sepotong baju sudah kebeli, pulanglah saya ke kamar hotel. Ternyata saya harus sekamar bareng dua orang lainnya. Wedeww…

Pagi-pagi sekali saya bangun, dan ternyata dua wartawan sekamar dengan saya sudah bangun duluan dan berangkat ke Istana Bogor untuk persiapan Live. Usai mandi (sembahyang perlu gak ya ditulis? :)) saya pun bergegas ke lantai lima untuk sarapan. Wah, kok nggak ada orang sama sekali ya, cuma saya dan seorang waiters. Saya pun makan dengan lahapnya seakan seisi restoran milik sendiri.

Tak lama kemudian, mak bedunduk…muncul wajah yang sangat saya kenal: Menduknas M Nuh. Saya pun mulai menata cara makan saya biar terlihat lebih elegan, sesuai dengan kaidah-kaidah tabel manner yang baik dan benar.

Saya cuma menyapa ala kadarnya kepada beliau, maunya sih duduk se meja. Tapi siapa sih saya, nggak lepell. Akhirnya kita duduk saling berjauhan, M Nuh makannya juga tampak hati-hati, cara makan krupuknya pun tertata. Suara kriuk-kriuknya cuma terdengar pelan..

Ah, saya tidak suka dengan suasana ini, serba kikuk..untungnya, 10 menit berlalu, dua pegawai Setneg datang untuk sarapan. Pak Nuh pun ngacir duluan….Aman!!! Benar-benar sarapan pagi yang garing…hihi

Curhat Soal Gaji Berbuah Kontroversi

Januari 25th, 2011 by anwarkis

sbycov2Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat curhat gajinya tidak pernah naik dalam 7 tahun terakhir. Pernyataan itu dia lontarkan saat memberi sambutan dalam acara rapat pimpinan TNI dan Polri Jumat minggu lalu. Dan mungkin saja, Presiden tidak berfikir akan seperti ini respons masyarakat tentang curhatnya itu.

Berbagai reaksi muncul setelah orang nomor satu di negeri ini tersebut mengungkapkan curhatnya. Sebagian kalangan menilai Presiden terlalu sering curhat. Presiden juga dianggap berlebihan sering mengungkapkan isi hatinya perihal pendapatannya itu. Sebab, tak cuma sekali dia cerita jika gajinya tak naik-naik.

“Pernyataan Presiden memalukan sebagai pemimpin bangsa. Dia tidak hanya memimpin birokrasi, tetapi juga memimpin di luar birokrasi. Di luar sana, masih banyak rakyat yang hidup miskin,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) FITRA, Yuna Farhan kepada wartawan di Restoran Bumbu Desa, Jakarta Pusat, Minggu (22/1/2011).

Menurut Farhan, curhat SBY itu hanya mengukur dirinya sebagai kepala birokrasi. Menurutnya, jika yang dipakai adalah ukuran birokrasi, memang kenaikan gaji dalam waktu yang lama jarang terjadi. Namun, SBY seharusnya melihat realitas masyarakat yang hidup di luar birokrasi.

Meski 7 tahun tak pernah naik, gaji PResiden SBY terbilang tidak sedikit. Majalah The Economist edisi 6 Juli 2010 membandingkan gaji pemimpin dibandingkan dengan pendapatan perkapita negeri tersebut. Hasilnya, Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong menempati posisi nomor satu dengan gaji US$ 2,18 juta atau setara Rp 19,8 miliar per tahun.

Presiden SBY, masih menurut majalah The Economist, gajinya sebesar US$ 124.171 atau sekitar Rp 1,1 miliar per tahun. Gaji SBY ini sekitar 28 kali lipat dari pendapatan per kapita Indonesia. Sehingga, sebenarnya gaji SBY tak usah naik. Malah justru kinerjanya yang harus ditingkatkan, sebagaimana yang diucapkan oleh Sekjen Gerindra Fadli Zon.

Muncul di jejaring sosial Twitter, gerakan ‘Koin untuk Presiden. Gerakan yang ditujukan untuk menyindir Presiden ini menjiplak gerakan serupa yang dulu pernah berhasil yaitu gerakan untuk mendukung Prita Mulyasari yang tersangkut kasus pencemaran nama baik RS Omni Internasional. Gerakan tersebut bernama ‘Koin Cinta untuk Prita’.

Gerakan ini membuat DPR usil. Sejumlah anggota DPR menyiapkan kotak transparan yang ditulisi ‘Koin untuk Presiden’ di selai-sela raker Komisi III dengan DPR kemarin. Hanya beberapa anggota DPR yang terlihat memasukkan koin ke kotak itu, antara lain Bambang Soesatyo, Syarifudin Suding dan Desmon Mahesa.

Menurut mantan anggota DPR Alvin Lie, tindakan yang dilakukan oleh DPR ini adalah sebuah penghinaan. Sebagai sesama lembaga negara, tak sepatutnya DPR melakukan perbuatan itu.

“Anggota DPR memang wajib awasi dan kritisi eksekutif, termasuk Presiden. Juga sah untuk berseberangan pendapat. Bahkan beroposisi. Tapi aksi pengumpulan koin untuk Presiden merupakan suatu penghinaan terhadap Presiden, apalagi dilakukan di sela acara rapat resmi DPR,” kata Alvin kepada detikcom semalam.

Kritikan serupa juga disampaikan oleh rekan Bambang Soesatyo, sesama politisi Partai Golkar, yakni Indra J Piliang. “Saya kira, para anggota DPR yamg mengumpulkan koin untuk presiden itu telah
mencoreng lagi panggilan untuk menjadi politisi di era demokrasi ini. Metode pengumpulan koin untuk menyindir Presiden SBY oleh DPR itu sungguh salah arah,” kata Indra J Piliang seperti dikutip dari akun twetternya, Senin (24/1/2011) malam.

Namun curhat SBY juga ditanggapi serius oleh pemerintah dan Komisi II DPR. Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) akan membuat standarisasi gaji nasional. Sementara Komisi II DPR juga saat ini tengah membahas revisi UU Nomor 43 Tahun 1999 tentang Kepegawaian. Dalam revisi UU tersebut, rencananya akan diatur mengenai pejabat negara atau pun hak-hak protokolernya.

Sementara, entah serius atau menyindir, Ketua Umum Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh mengaku bersedia membantu kenaikan gaji Presiden. Dalam deklarasi Nasdem di Denpasar, Bali, kemarin, melalui Nasdem, Paloh berjanji akan membantu presiden ‘mengatasi’ masalah gaji.

“Kalau memang (gaji Presiden SBY) masih kurang, lebih baik diam saja. Kalau ada kekurangan, Nasdem siap membantu,” kata Surya Paloh saat melantik Dewan Pimpinan Wilayah Nasdem Bali di Hotel Sanur Paradise, Jl By Pass Sanur, Denpasar, kemarin.

Pasang Surut Hubungan RI-Malaysia

Agustus 26th, 2010 by anwarkis

Hubungan dua negera bertetanga, Indonesia-Malaysia, memanas. Ini bukanlah kali pertama. Sejak Presiden pertama Soekarno memimpin, hubungan dua negeri jiran (tetangga) ini tak lepas dari pasang surut dengan bumbu-bumbu konflik di dalamnya.

Kalau diperhatikan, Malaysia memang sering mengawali berulah. Tahun lalu masih jelas di ingatan kita, kapal Malaysia memasuki wilayah perairan Indonesia. Tepatnya pada Juni 2009 silam, kapal tentara Malaysia kepergok memasuki wilayah Ambalat.

Pada saat itu juga, pemerintah melalui Departemen Luar Negeri telah mengirim nota protes ke Malaysia. Nota protes tersebut adalah yang ke-36 kalinya dilayangkan Indonesia sejak tahun 2003.

Setahun kemudian, tepatnya pertengahan Agustus 2010, Malaysia kembali berulah. Tiga petugas dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepulauan Riau (Kepri) ditangkap oleh polisi perairan Malaysia. Hiruk pikuk kecaman terhadap Malaysia di dalam negeri pun tak terbendung.

Demonstrasi tiada henti terjadi di depan Kedubes Malaysia di Jakarta dan di beberapa konsulat Malaysia di Tanah Air. Para demonstran mengecam berbagai tindakan Malaysia yang dianggap melecehkan kedaulatan Indonesia.

Di Jakarta, aktivis Bendera menggelar aksi dengan melempari kantor Kedubes AS dengan tinja. Beberapa aktivis Bendera ditangkap polisi akibat aksi ini. Di Malaysia, pelemparan tinja dianggap merupakan penghinaan besar. Kedubes RI di Malaysia pun balik jadi sasaran demo massa.

Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah bahkan menyatakan, Malaysia telah hilang kesabaran terkait aksi demonstrasi yang tertuju ke kedutaannya di Jakarta. Dia pun berencana mengeluarkan travel advisory, jika diperlukan.

“Kami akan memantau situasi. Jika perlu, kami akan mengeluarkan sebuah travel advisory,” kata Anifah dalam jumpa pers yang digelar, Rabu (25/8/2010) kemarin seperti dilansir The Star.

Meski demikian, menurut Anifah, Malaysia tidak akan melakukan tindakan serupa dengan melempari tinja ke Kedubes Indonesia. Karena ini menyangkut integritas bangsa. Dia pun menyerukan kepada warga Malaysia untuk tidak ‘membalas’ tindakan-tindakan seperti yang dilakukan oleh demonstran di Indonesia.

Di dalam negeri, pemerintah Indonesia dianggap terlalu lemah dalam berdiplomasi. Meskipun pada akhirnya 3 petugas DKP tersebut dibebaskan, namun disinyalir pembebasan itu merupakan hasil barter dengan Malaysia lantaran dalam waktu yang tak jauh beda, 7 nelayan Malaysia yang masuk wilayah RI juga dibebaskan.

Meskipun anggapan ini dibantah habis-habisan oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, namun hal ini tidak menyurutkan wakil rakyat untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah. Pada Rabu (25/8/2010) kemarin, Menlu Marty Natalegawa dan Dubes RI untuk Malaysia Dai Bachtiar dipanggil oleh Komisi I DPR untuk menjelaskan masalah ini.

Dalam kesempatan itu, Marty menjelaskan secara rinci perihal penangkapan terhadap 3 petugas DKP Kepri. Marty juga menjelaskan telah mengirimkan nota keberatan kepada Malaysia, meski nota keberatan tersebut dijawab dengan nota keberatan juga lantaran Malaysia menganggap 3 petugas DKP masuk ke wilayah Malaysia.

Agar kasus serupa tidak terus terjadi, Marty berjanji akan mempercepat pembahasan mengenai batas wilayah antara Indonesia dan Malaysia.

Ada yang puas, juga ada yang tidak puas atas jawaban Marty dan Dai Bachtiar. Ada pula yang menyalahkan Presiden atas lambannya penanganan terhadap WNI yang ditangkap di Malaysia ini.

Isu pun bergulir ke arah pengajuan hak interpelasi kepada Presiden. Partai oposisi, PDI Perjuangan, tentunya sepakat dengan wacana interpelasi. Sementara sebagian anggota koalisi pendukung pemerintah seperti Golkar, juga ada yang sepakat menyuarakan interpelasi.

Kita tunggu saja, apakah masalah kedaulatan Bangsa ini berubah haluan menjadi ‘bancakan’ politik para politisi di Senayan, atau cukup diselesaikan secara bilateral antara RI dan Malaysia.benderarimalaysiadalammalaysiaflag