Mengintip Istana Presiden Cipanas
Posted in detikcom on 5 Februari 2010 by anwarkisSiapa yang tidak kenal Istana Presiden Cipanas? Bangunan eksotik peninggalan Belanda itu kini masih kokoh meski dimakan zaman. Pesona gedung yang terletak di Jalan Raya Cipanas, Cianjur, ini tetap terjaga.
Ada beberapa bangunan yang terletak di Istana Cipanas. Dari sekitar 17 bangunan yang ada, terdapat sebuah bangunan utama yang menghadap ke jalan raya yang disebut Gedung Induk.
Selain bangunan induk, terdapat beberapa bangunan yang berupa paviliun yang diberi nama Paviliun Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Abimanyu, Antasena, dan Tumaritis.

“Dari beberapa paviliun tersebut, ada paviliun yang bukan peninggalan Belanda, seperti Paviliun Nakula dan Sadewa,” kata salah seorang karyawan Istana Cipanas, Kusnadi, di kompleks Istana Cipanas, Rabu (3/2/2010).
Selain itu, ada beberapa bangunan penunjang lainnya seperti rumah bunga, kolam renang, kolam pancing, gedung bentol, rumah pemandian air panas I dan II, gedung kantor, masjid, museum dan perpustakaan.
“Bangunan-bangunan tersebut sebagian juga bukan peninggalan Belanda,” kata Kusnadi.
Istana Cipanas yang dibangun sekitar tahun 1700-an ini memiliki luas sekitar 26 hektare. Didominasi oleh rerumputan hijau di atas tanah berkontur, istana ini juga dipenuhi oleh hutan lindung yang asri, rimbun dan indah.
Tak cuma itu, aliran sungai kecil yang jernih disertai dengan gemercik air yang riuh, menjadikan istana ini sangat sayang untuk tidak dikunjungi.
Istana Cipanas dibangun oleh Gubernur Jenderal Gustaaf William Baron Van Imhoff. Ide pembangunan muncul bermula saat ditemukannya suhu air bersuhu 43 derajat Celcius yang mengandung zat belerang dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Dari luas tanah 26 hektare, cuma 8.000 meter persegi saja yang berbentuk bangunan. Sisanya merupakan padang rumput, tanaman hias serta hutan lindung.
Pada masa pemerintahan Belanda, Istana Cipanas dipakai untuk peristirahatan para Gubernur Jenderal, seperti Gustaaf William, Andreas Cornelis de Graaff, Bonafacius Cornelis de Jonge dan Tjarda Van Starkenborgh.
Pada masa pemerintahan Jepang, Istana Cipanas dipakai untuk tempat peristirahatan para pembesar Jepang yang sedang melakukan perjalanan ke Bandung dari Jakarta dan sebaliknya. Saat masa kemerdekaan, Istana Cipanas tetap digunakan sebagai tempat peristirahatan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarga.
Peristiwa Bersejarah
Meski digunakan untuk tempat peristirahatan, namun pada kenyataanya Istana Cipanas sering dijadikan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan politik, ekonomi dan hubungan antar bangsa. Pada 13 Desember 1965, ruang Gedung Induk menjadi tempat sidang kabinet yang dipimpin oleh Presiden Soekarno untuk menetapkan mata uang dari Rp 1.000 menjadi Rp 1 yang dikenal dengan istilah Saneering.
Kegiatan lain adalah pada 17 April 1993 Presiden Soeharto menjadi penengah diplomasi antara pemerintah Filipina dan gerilyawan muslim Moro yang dipimpin oleh Nur Misuari. Perundingan tersebut dipimpin oleh mantan Menlu Ali Alatas.
Pada 16 Juni 2005, Istana Cipanas menjadi tempat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Dalam kesempatan ini, Presiden SBY memberikan Piala Adipura dan Kalpataru kepada para tokoh masyarakat dan para pejabat daerah.
Dan, pada 1-3 Februari 2010, Istana Cipanas kembali dipakai untuk acara rapat kerja Presiden, para menteri serta para gubernur se-Indonesia. Istana Cipanas kembali jadi perbincangan, lantaran di tempat ini, SBY curhat tentang ulah para demonstran yang mengumpamakan SBY dengan kerbau.
SBY pun menyentil demonstran itu. Namun pro dan kontra kembali muncul karena sebagai kepala negara dan pemerintahan, SBY dianggap tak usah menaggapi hal-hal yang tak substansial.
Mau berkunjung ke Istana Cipanas? Anda harus mengajukan surat permohonan kepada Kepala Rumah Tangga Presiden. Waktu berkunjung tiap Senin sampai Jumat mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Khusus hari Jumat, waktu berkunjung dilanjutkan hingga pukul 16.00 WIB.




Menko Perekonomian Hatta Rajasa resmi menjadi Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) setelah para peserta Kongres PAN di Batam memilihnya secara aklamasi. Melalui proses yang ‘dramatis’, akhirnya pria berambut putih ini pun akhirnya menambah deretan nama-nama menteri yang menjadi ketua umum (ketum) partai politik.
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa 'alaa naaril jahiimi
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi
Tuhanku… aku tidak layak memasuki surga Firdaus
Tapi aku tak mampu menahan siksa api neraka
Sehingga, terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar
Begitulah, sepenggal bait syair Al I'tiraf yang sering ditampilkan oleh stasiun
televisi beberapa saat setelah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat. Lagu
tersebut seakan menyayat-nyayat hati tatkala dilantunkan oleh mantan Presiden
Indonesia itu, apalagi di saat beliau sudah tiada.
Tak bayak orang tahu, sang pencipta syair tersebut adalah pujangga besar Arab
masa pemerintahan bani Abbasiyah, Al Hasan bin Hani al-Hakami, atau yang lebih
dikenal dengan panggilan Abu Nawas.
Bagi publik Indonesia, Abu Nawas dikenal sebagai sosok yang lucu, cerdas, dan
sering melakukan hal-hal yang unik hingga membuat raja kala itu, Raja Harun Al
Rasyid di masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah penasaran. Akhirnya, Abu Nawas
diangkat sebagai penyair kepercayaan raja yang kala itu bertempat di Baghdad
Irak. Lalu apa hubungannya dengan Gus Dur?
Semasa hidupnya, Gus Dur adalah tokoh pengagum Abu Nawas. Sehingga wajar, jika
orang menyebut Gus Dur adalah Abu Nawas-nya Indonesia, cerdas, lucu, dan suka
membuat kontroversi. Namun di balik itu, Gus Dur dianggap sebagai tokoh yang
komitmen dengan Islam yang toleran, pluralis, sebagai simbol Islam rahmatan lil
alamiin.
Gus Dur juga mengoleksi banyak syair-syair karya Abu Nawas. Tak kurang ribuan
bait syair dia hafalkan. Hal ini diceritakan oleh mantan Menteri Pemberdayaan
Perempuan Khofifah Indarparawansa.
"Biasanya beliau sambil jalan, sambil melafalkan syiiran Abu Nawas yang saat itu
beliau masih hafal 2.000-an bait," kenang Khofifah kepada detikcom 30 Desember
2009 lalu.
"Setiap syair yang dibaca dengan lantunan khas, diterjemahkan, dieksplor,
sehingga suatu saat Pak Wimar Witoelar (jubir presiden kala itu) bilang, meski
orang sekuler, kalau sering ikut jalan pagi dengan Gus Dur bisa jadi ideolog,"
ujarnya.
Tapi dari ribuan bait syair karya Abu Nawas, Al I'tiraf lah yang paling masyhur
di tanah air. Di musala-musala kecil di kampung, syair ini dikumandangkan dengan
pengeras suara sembari menunggu sang imam datang untuk memimpin salat berjamaah.
Di pesantren-pesantren di Jawa Timur, syair ini juga sering dilantunkan.
Tak cuma itu, para artis nasional, seperti Haddad Alwi, bahkan grup nasyid asal
Malaysia, Raihan pun juga merilis syair Al I'Tiraf menjadi sebuah lagu. Dan
seperti yang telah diduga, lagu itupun laris manis di pasaran tanah air.
Pendiri Museum Rekor Indonesia (Muri), Jaya Suprana pernah menyebut syair Al
I'tiraf adalah syair tak lekang sepanjang masa. Dalam sebuah acara talkshow di
sebuah stasiun TV saat Gus Dur menjadi presiden, Jaya Suprana tampil apik dengan
piano membawakan lagu Al I'tiraf. Dalam acara talk show tersebut, hadir pula Gus
Dur sebagai salah satu tamu.
Meski seorang nonmuslim, Jaya Suprana tampak menghayati lau Al 'tiraf saat
tangannya mulai menyentuh tombol-tombol piano. Matanya tampak redup, seakan
menghayati syair demi syair lagu itu yang memang penuh makna.
Syair Al I'tiraf diilhami dari sebuah kisah seorang sahabat yang baru kembali
dari medan perang. Saat berada di pintu rumahnya, secara tidak sengaja tiba-tiba
nampak olehnya betis seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri sahabatnya
yang ketika itu sedang bertamu di rumahnya.
Seketika itu juga ia melompat keluar dari pintu dan berlari meninggalkan
rumahnya, menuju tempat yang sepi, selama bertahun-tahun, untuk bertobat kepada
Allah SWT atas ketidaksengajaannya. Rintihan tobatnya itulah yang sekarang
sering kita dengar dalam lagu Al I'tiraf.
Selamat jalan Gus. Semoga bisa bertemu dengan Abu Nawas di jannatunnaim, surga
tempat segala kenikmatan.