STOP ANWARKIS!!!!

Just another Blogdetik.com weblog

Mengintip Istana Presiden Cipanas

Posted in detikcom on 5 Februari 2010 by anwarkis

Siapa yang tidak kenal Istana Presiden Cipanas? Bangunan eksotik peninggalan Belanda itu kini masih kokoh meski dimakan zaman. Pesona gedung yang terletak di Jalan Raya Cipanas, Cianjur, ini tetap terjaga.

Ada beberapa bangunan yang terletak di Istana Cipanas. Dari sekitar 17 bangunan yang ada, terdapat sebuah bangunan utama yang menghadap ke jalan raya yang disebut Gedung Induk.

Selain bangunan induk, terdapat beberapa bangunan yang berupa paviliun yang diberi nama Paviliun Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Abimanyu, Antasena, dan Tumaritis.

museumcipanas-dalam3

“Dari beberapa paviliun tersebut, ada paviliun yang bukan peninggalan Belanda, seperti Paviliun Nakula dan Sadewa,” kata salah seorang karyawan Istana Cipanas, Kusnadi, di kompleks Istana Cipanas, Rabu (3/2/2010).

Selain itu, ada beberapa bangunan penunjang lainnya seperti rumah bunga, kolam renang, kolam pancing, gedung bentol, rumah pemandian air panas I dan II, gedung kantor, masjid, museum dan perpustakaan.

“Bangunan-bangunan tersebut sebagian juga bukan peninggalan Belanda,” kata Kusnadi.

Istana Cipanas yang dibangun sekitar tahun 1700-an ini memiliki luas sekitar 26 hektare. Didominasi oleh rerumputan hijau di atas tanah berkontur, istana ini juga dipenuhi oleh hutan lindung yang asri, rimbun dan indah.

Tak cuma itu, aliran sungai kecil yang jernih disertai dengan gemercik air yang riuh, menjadikan istana ini sangat sayang untuk tidak dikunjungi.

Istana Cipanas dibangun oleh Gubernur Jenderal Gustaaf William Baron Van Imhoff. Ide pembangunan muncul bermula saat ditemukannya suhu air bersuhu 43 derajat Celcius yang mengandung zat belerang dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Dari luas tanah 26 hektare, cuma 8.000 meter persegi saja yang berbentuk bangunan. Sisanya merupakan padang rumput, tanaman hias serta hutan lindung.

Pada masa pemerintahan Belanda, Istana Cipanas dipakai untuk peristirahatan para Gubernur Jenderal, seperti Gustaaf William, Andreas Cornelis de Graaff, Bonafacius Cornelis de Jonge dan Tjarda Van Starkenborgh.

Pada masa pemerintahan Jepang, Istana Cipanas dipakai untuk tempat peristirahatan para pembesar Jepang yang sedang melakukan perjalanan ke Bandung dari Jakarta dan sebaliknya. Saat masa kemerdekaan, Istana Cipanas tetap digunakan sebagai tempat peristirahatan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarga.

Peristiwa Bersejarah

Meski digunakan untuk tempat peristirahatan, namun pada kenyataanya Istana Cipanas sering dijadikan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan politik, ekonomi dan hubungan antar bangsa. Pada 13 Desember 1965, ruang Gedung Induk menjadi tempat sidang kabinet yang dipimpin oleh Presiden Soekarno untuk menetapkan mata uang dari Rp 1.000 menjadi Rp 1 yang dikenal dengan istilah Saneering.

Kegiatan lain adalah pada 17 April 1993 Presiden Soeharto menjadi penengah diplomasi antara pemerintah Filipina dan gerilyawan muslim Moro yang dipimpin oleh Nur Misuari. Perundingan tersebut dipimpin oleh mantan Menlu Ali Alatas.

Pada 16 Juni 2005, Istana Cipanas menjadi tempat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Dalam kesempatan ini, Presiden SBY memberikan Piala Adipura dan Kalpataru kepada para tokoh masyarakat dan para pejabat daerah.

Dan, pada 1-3 Februari 2010, Istana Cipanas kembali dipakai untuk acara rapat kerja Presiden, para menteri serta para gubernur se-Indonesia. Istana Cipanas kembali jadi perbincangan, lantaran di tempat ini, SBY curhat tentang ulah para demonstran yang mengumpamakan SBY dengan kerbau.

SBY pun menyentil demonstran itu. Namun pro dan kontra kembali muncul karena sebagai kepala negara dan pemerintahan, SBY dianggap tak usah menaggapi hal-hal yang tak substansial.

Mau berkunjung ke Istana Cipanas? Anda harus mengajukan surat permohonan kepada Kepala Rumah Tangga Presiden. Waktu berkunjung tiap Senin sampai Jumat mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Khusus hari Jumat, waktu berkunjung dilanjutkan hingga pukul 16.00 WIB.

Kisah Para Cucu dan Mbah Kakung….

Posted in Tak Berkategori on 2 Februari 2010 by anwarkis

Menelepon keluarga di kampung halaman saat hari libur adalah rutinitas yang sering kujalani. Selain menanyakan kondisi keluarga di rumah, biasanya obrolan mengarah pada hal-hal yang nggak penting, termasuk gosip-gosip murahan di kampung, semisal ada tetangga sebelah yang ketahuan lagi pacaran, trus orang tua perempuan minta segera dinikahkan. Tapi juga ada hal-hal spontanitas yang menjadi topik bahasan.

Seperti minggu lalu, sekitar setengah jam aku menelepon kakakku yang tinggal di Banyuwangi nun jauh di sana. Obrolan pun ngalor ngidul, hingga dia bercerita soal keponakan kita yang tinggal di kota Malang. Keponakanku itu, Muhammad Zakky, yang berusia 4 tahun tiba-tiba menelepon mbah kakungnya, yang tak lain adalah bapak saya sendiri. Dalam telepon itu, Zakky menangis katanya takut kalau mbah kakungnya meninggal.

“Sekarang kan banyak orang meninggal, seperti Gus Dur, dan Ibu Nyai di Kediri. Saya takut mbah kakung juga meninggal,” kata Zakky dalam telepon itu sambil menangis.

Mendengar cerita itu, aku pun tertawa lebar, tapi juga berpikir. Kok anak sekecil itu bisa punya pikiran seperti itu. Tapi yang membuat aku tertawa. Zakky menyamakan mbah kakungnya dengan Gus Dur dan Ibu Nyai Zuhriyyah (Ibu Nyainya kakakku waktu di pesantren).

“Mbah Kakung kan juga kyai,” kata Zakky polos.

Orang tuaku bukanlah seorang kyai. Cuma imam musholla kecil dekat rumah yang selalu menjadi imam saat salat berjamaah.

“Mungkin karena melihat kakeknya jadi imam saat salat berjamaah membuat Zakky mengira kakeknya adalah kyai,” kata kakakku sambil tertawa lebar.

Mendapat telepon itu, Mbah kakung pun resah. Beliau berpikir, mungkin sang cucu lagi kangen sama mbah kakungnya, meski kira-kira empat bulanan lalu mbah kakung dan mbah putri sebenarnya juga menjenguknya di Malang.

Dan siang tadi, karena hari libur, aku kembali menelepon kakakku. Dia bilang, “War, besok bapak ke Malang. Menjenguk anak dan cucu ‘kesayangannya,” kata kakakku. Aku tertawa lebar sambil terenyuh. Apalagi mendengar cerita bahwa betapa bapakku jadi langsung pengen ke Malang setelah mendapat telepon dari sang cucu. “Memang bapakku selama ini lebih sayang sama cucu daripada anaknya sendiri,” candaku dalam hati.

Tak cuma mendengar cerita lucu soal Zakky. Dalam telepon rutinku kepada kakakku, aku juga mendapat cerita soal ponakanku yang lain, yang konon nakalnya minta ampun. Muhammad Farouk Tamami namanya. Usianya baru dua tahun. Tapi kalo soal ngomong, kadang bikin sakit hati. Bayangkan, anak sekecil itu sudah sering ngeyel kalau diperintah orang tua, maunya menang sendiri, kalo pipis maunya di tempat tidur, meski dalam kondisi tidak tidur. Pokoknya nakal deh. Tapi sepertinya dia anak yang cerdas, sebab dia hapal semua dialog iklan di TV, cerita sinetron, dll (hahahah).

Pernah saat liburan lebaran kemarin pas aku mudik, tiba-tiba dia deketin aku yang sedang main laptop.

“Pak Awang (Pak Anwar), itu Noordin M Top ya,” kata dia.

“Bukan, Ini laptop,” jawabku. “Bukan, Noordin M Top,” kata dia tak mau kalah. “Yaudah, sama-sama diakhiri dengan TOP,” pikirku.

Satu lagi, ponakanku dari kakak yang lain. Namanya Nordian Syah. Dia kelas 4 SD. Semester lalu dia nggak berani minta hadiah ke aku lantaran cuma rangking 4 di kelasnya. Padahal sebelumnya selalu 3 besar. Karena berniat menghukumnya, aku pun tak memberi hadiah pada Dian..

Kapan ya bisa berkumpul bersama keluarga lagi. Pulang pas lebaran saja sepertinya terlalu singkat untuk melepas rasa kangen….

Dua Kali Didemo Besar, Dua Kali Menghindar

Posted in Tak Berkategori on 26 Januari 2010 by anwarkis

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menghadapi demo besar-besaran pada 28 Januari nanti. Tuntutannya tak main-main: meminta dia supaya mundur dari jabatan Presiden lantaran dianggap gagal memimpin 100 hari pemerintahan. Kemanakah Presiden pada tanggal itu?

Meski belum ada jadwal resmi dari Biro Pers dan Media Istana Kepresidenan, Presiden SBY dijadwalkan akan menggelar acara di Banten, Jawa Barat. SBY akan meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Provinsi yang dipimpin oleh Ratu Atut Khosiyah tersebut.

Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, membantah jika agenda SBY tersebut disengaja untuk menghindar dari para demonstran yang dikabarkan akan berjumlah lebih dari 20 ribu orang mengepung Istana.

“Presiden bukan karena menghindari demo. Karena memang sudah jauh-jauh hari disiapkan,” kata Julian usai menghadiri pelantikan sembilan anggota Wantimpres di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Senin (25/1/2010) kemarin.

Kabar kunjungan Presiden ke Banten memang bukan baru saja terdengar. Informasi tentang hal ini sudah terdengar seminggu terakhir. Namun Julian tetap belum memastikan agenda tersebut. “Kata siapa?” Julian balik bertanya.

Secara langsung, Presiden belum pernah berkomentar tentang rencana aksi massa ini. Bahkan, menurut Julian, membicarakan pun belum pernah. Sangat berbeda dengan aksi Hari Antikorupsi 9 Desember lalu. Kala itu SBY menggelar jumpa pers soal rencana akan ada aksi makar. Dan ternyata tuduhan itu tak terbukti.

Saat aksi 9 Desember berlangsung, SBY juga sedang tidak ada di Istana. Dia dan rombongan sedang berada di Bali untuk sebuah acara interen. SBY pun tak mendengar ribuan demonstran yang didominasi oleh para mahasiswa itu beraksi. Dan kondisi serupa sepertinya juga akan terulang.

Meski tidak bicara soal rencana aksi menurunkan presiden, tapi beberapa hari terakhir presiden sering berbicara mengenai pemakzulan terhadap presiden. Menurutnya, dalam sistem pemerintahan presidensil, tidak serta merta parlemen bisa menurunkan presiden di tengah jalan. Demikian juga sebaliknya.

Pertama kali, Presiden mengungkapkan soal pemakzulan ini saat usai memimpin rapat dengan para pemimpin lembaga tinggi negara di Istana Bogor minggu lalu. Terakhir, Senin (25/1/2010) kemarin SBY kembali mengungkit soal pemakzulan saat berbicara di hadapan para petinggi TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.

Saat berbicara di hadapan ratusan bupati se-Indonesia di Madiun 19 Januari lalu, SBY juga menyinggung masalah sistem presidensil.

Soal pemerintahan presidensil, sebenarnya belum ada kata sepakat dengan sistem pemerintahan tersebut. Sebab Indonesia dianggap tidak sepenuhnya melaksanakan sistem presidensil atau pun parlementer. Meminjam istilah anggota DPR dari Partai Hanura, Akbar Faisal, sistem pemerintahan Indonesia adalah ‘banci’.

Dalam hukum ketatanegaraan, istilah ‘banci’ ini lebih pas disebut dengan istilah kuasi presidensial dan kuasi parlementer. Bukan presidensiil, tidak juga parlementer.

Akankah demo besar-besaran ini terbukti? “Itu kan baru klaim dari mereka,” kilah Julian usai pelantikan anggota Wantimpres kemarin.sby-boediono-covsby-boediono-cov

Pagar Istana Makin Tinggi Saja

Posted in Tak Berkategori on 17 Januari 2010 by anwarkis

Jika Anda melewati sepanjang Jl Veteran, Jl Juanda dan Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, pasti akan melihat suasana beda. Tampak berdiri kokoh pagar setinggi kurang lebih 3 meter mengelilingi kompleks Istana Presiden.

Pembangunan pagar tersebut telah berlangsung beberapa bulan terakhir. Saat pembangunan pagar yang memisahkan kompleks Istana dengan ruang publik ini berlangsung, ratusan seng dipajang untuk menutupi proses pembangunan. Tapi kini, pagar besi kokoh tersebut sudah bisa dinikmati.

Sebelumnya, pagar yang mengelilingi Istana cuma setinggi kuran glebih satu meter saja. Pagar tersebut semakin tidak tampak lantaran berjajar dengan tanaman rindang yang biasanya juga berfungsi sebagai pagar tanaman. Namun setelah pagar baru dibangun, tanaman itu sudah tidak ada lagi.

Atas permohonan Menteri Keuangan Sri Mulyani, pembangunan pagar ini telah disetujui oleh Badan Anggaran DPR. Persetujuan ini dicapai dalam hasil rapat Badan Anggaran DPR dengan Sri Mulyani di Gedung DPR Selasa 3 November lalu.

Total biaya untuk merenovasi pagar tersebut mencapai Rp 22,581 miliar. Dana sebanyak itu mencakup penyediaan dana untuk keperluan renovasi pagar halaman dan pemasangan alat sekuriti di lingkungan Istana Kepresidenan dan Wakil Presiden.

Jika dulu orang dewasa bisa melompati pagar tersebut, jangan harap hal serupa juga bisa dilakukan sekarang.

Menurut peneliti hukum dan politik anggaran Indonesia Budget Center (IBC) Roy Salam, renovasi pagar Istana tersebut patut dipertanyakan.

“Dengan anggaran Rp 22 miliar patut dipertanyakan. Menggunakan bahan apa, marmer atau besi macam apa,” kata Roy.

Menurutnya, pembangunan pagar Monas yang luasnya mencapai 3 kali lipat Istana Presiden saja cuma menghabiskan dana sesebar Rp 10 miliar.

“Kalau kita lihat dengan renovasi pagar Monas, hanya membutuhkan sekitar Rp 10 miliar kalau saya nggak salah ingat. Padahal luasnya hampir 3 kali dari Istana Negara,” ungkap Roy.

Pagar tersebut dilengkapi dengan pemasangan alat sekuriti untuk mencegah terjadinya bahaya yang mengancam Istana dari pihak mana pun termasuk para teroris. Boy menilai memang penting mengamankan Istana, tapi dengan anggaran sebanyak itu tetap saja menghambur-hamburkan uang negara.

“Saya agak sulit mengatakan ini (keamanan Istana) nggak penting. Ancaman terhadap Istana sedikit berlebihan. Karena terorisme identik dengan fasilitas asing ketimbang simbol-simbol negaranya sendiri,” cetusnya.

Menutup Diri

Roy menambahkan, pembangunan pagar Istana yang kian tinggi menunjukkan Istana makin menutup diri dari dunia luar. Padahal, harusnya Istana sebagai simbol negara lebih mendekatkan diri kepada rakyat.

“Meninggikan pagar Istana harus dilihat dalam konteks mengapa harus ditinggikan. Ini seolah-olah menutup diri dari pandangan rakyat, akses masyarakat,” paparnya.

“Patut dipertanyakan mekanisme tendernya bagaimana. Ini juga harus dilakukan secara transparan,” kata Roy.

Roy meminta agar mekanisme tender pembangunan pagar ini dijelaskan agar masyarakat bisa melihat secara transparan.

“Jangan-jangan ada biaya yang tidak wajar,” katanya.pagarpagar1

Islam di Amerika dan Ketakutan Akan Islam

Posted in detikcom on 14 Januari 2010 by anwarkis

Berbicara mengenai Islam di negeri yang mayoritas penduduknya bukan pemeluk agama Islam seperti di Amerika Serikat (AS) memang menarik. Banyak sisi humanis, namun tak sedikit pula tragis terdapat di sana. Begitulah sekiranya pengalaman yang diceritakan oleh mahasiswa program doktor di Harvard University, Ulil Abshar Abdalla.

Bagi Ulil, begitu penggagas Jaringan Islam Liberal (JIL) ini disapa, menjadi seorang muslim di negeri Paman Sam tidak serumit seperti yang orang kira. Namun
juga tidak mudah seperti layaknya menjadi seorang muslim di Indonesia. Misalkan, saat bulan Ramadan tiba, di sekolah anaknya yang masih duduk di sekolah dasar,
cuma putranya saja yang berpuasa. Rasa was-was sempat terbersit dalam hati.

“Tapi untungnya mereka sangat mengapresiasi. Guru anak saya dengan sangat simpatik sekali menjelaskan kepada anak-anak lain tentang puasa. Anak-anak yang
lain juga sangat apresiasif dan menghormati,” cerita Ulil saat berdiskusi tentang ‘Islamophobia di Amerika Serikat’ yang berlangsung di Gedung Komunitas
Salihara, Jl Salihara, Jakarta, Rabu (26/8/2009) malam.

Tak cuma itu, saat Ulil mengajak anak-anaknya ke perpustakaan umum kota Boston, Amerika Serikat pun, dia dibikin terheran-heran. Bukan buku kartun Batman atau Superman yang didapatkan, tetapi di sana banyak buku-buku Islam yang dikemas dalam bentuk kartun.

Bahkan, Ulil nyaris tidak merasakan adanya Islamophobia di lingkungannya. Sebab memang menurutnya tidak ada pembedaan-pembedaan dalam setiap lini kehidupan di sana. “Bagi saya nyaris tidak ada phobia terhadap Islam,” ujarnya.

Namun, ternyata tak sedikit pula pihak-pihak yang ‘tidak suka’ dengan Islam. Dengan berbagai cara, mereka selalu menjelek-jelekan agama Samawi ini. Robert Svensen, salah seorang penulis terkenal di AS, selalu membuat propaganda-propaganda untuk menjelek-jelekkan Islam melalui buku-buku
yang dia karang.

“Dalam beberapa karyanya, Islam ‘ditelanjangi’,” cerita menantu KH Mustofa Bisri alias Gus Mus ini.

Sekelompok orang di depan kampus Harvard, imbuhnya, juga membuat tenda besar, menyebarkan pamflet dan mengeluarkan jargon-jargon anti-Islam. Hal ini mereka lakukan cuma karena menolak kebijakan kampus Harvard, yang mengabulkan permintaan mahasiswi muslim untuk diberi waktu dua jam sehari seminggu tiga kali untuk melakukan olah raga fitness di kampus itu tanpa berbaur dengan mahasiswa pria. “Kebijakan ini dikritik keras,” ungkap Ulil.

Media-media setempat juga ada beberapa yang dianggap anti-Islam. Sebut saja Fox. Menurut Ulil media ini dalam semua hal selalu bersikap konservatif. “Jangankan
soal Islam, soal olah raga saja mereka konservatif,” ujarnya sambil tertawa.

Tak cuma itu, banyak radio setempat yang menyebarkan kebencian terhadap Islam. Bahkan Ulil menceritakan, seorang narasumber muslim yang diundang di salah satu radio tersebut saat mengudara langsung diputus siarannya dan dimaki-maki pula oleh host-nya lantaran pendapatnya dianggap tidak berkenan.

Gejala Islamo phobia ini, menurut Ulil, bukan sepenuhnya kesalahan orang Amerika. Namun kadang orang Islam sendiri juga perlu introspeksi. “Orang Islam tidak bisa dekat dengan orang setempat, sehingga kadang ada kecurigaan-kecurigaan,” kata pria yang kabarnya bakal ikut dalam bursa pencalonan Ketua PBNU ini.

Masalah inilah yang menjadi tantangan besar kaum muslim di AS. Banyak juru dakwah di AS yang kurang tahu benar dan fasih berbahasa Inggris layaknya orang Amerika asli. Saat ini umumnya para imam masjid di AS berasal dari Timur Tengah, dan bahasa Inggrisnya kurang lancar. “Kayak Inggrisnya Amien Rais lah,” canda Ulil disambut tawa sekitar 50 peserta diskusi yang hadir.

Namun terkait masalah ini, seorang muallaf AS, Hamzah Yusuf, saat ini sedang gencar merintis imam-imam lokal, yang mahir bahasa Inggris, dan paham betul akan
Islam melalui pesantren yang dia bangun di AS.

Soal imigran muslim di AS, Ulil membawa kabar gembira. Pemerintah setempat membebaskan imigran muslim untuk tidak dipaksakan berasimilasi dengan budaya
setempat. Sehingga banyak didirikan sekolah-sekolah Islam yang khusus diperuntukkan bagi imigran Islam asal Timur Tengah, juga Pakistan atau Bangladesh. Tapi kenapa kedua anak Ulil tidak disekolahkan di sana? “Bukan berarti saya tidak suka Islam. Tapi karena saya tidak punya uang,” selorohnya lagi-lagi disambut tawa
hadirin.

Satu hal yang ingin disampaikan oleh Ulil dalam diskusi tersebut. Ketakutan-ketakutan akan Islam di mana pun berada bukan melulu kesalahan orang nonmuslim, tapi memang kadang kaum muslim sendiri yang kurang berbaur, dan bersikap eksklusif. Sebuah kritikan dari dalam yang perlu ditelaah bersama.ulil-dalam

Para Menteri yang Jadi Ketum Parpol Itu….

Posted in detikcom on 12 Januari 2010 by anwarkis

hatta-dalam1Menko Perekonomian Hatta Rajasa resmi menjadi Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) setelah para peserta Kongres PAN di Batam memilihnya secara aklamasi. Melalui proses yang ‘dramatis’, akhirnya pria berambut putih ini pun akhirnya menambah deretan nama-nama menteri yang menjadi ketua umum (ketum) partai politik.

Sebelumnya, Menakertrans, Muhaimin Iskandar, dan Menteri Agama, Suryadharma Ali, telah mendahului langkah Hatta. Menteri Komunkasi dan Informasi Tifatul Sembiring juga menjadi Presiden PKS saat awal-awal menjadi menteri. Namun akhirnya Tifatul mundur dari jabatan tertinggi di partainya itu.

“Itu sudah menjadi kebiasaan di PKS,” kata Tifatul.
Tifatul enggan berkomentar dengan terpilihnya Hatta Rajasa sebagai Ketua Umum PAN. Namun menurutnya semua tergantung orangnya masing-masing. “Dulu waktu Nurmahmudi Ismail (mantan Presiden PKS) jadi menteri dia juga mundur,” cerita Tifatul.

Apakah posisi ketua umum partai bisa mengganggu kerja seorang menteri? “Tanya saja kepada yang bersangkutan,” jawabnya diplomatis.

Dengan terpilihnya Hatta sebagai Ketum PAN, koalisi yang dibidani oleh Partai Demokrat diprediksi akan makin kuat saja. Saat kampanye pemilihan calon Ketum PAN, Hatta menegaskan soal sikap politiknya yang akan menguatkan koalisi dengan Partai Demokrat jika terpilih menjadi ketua umum PAN. Namun Hatta menjamin akan tetap menjaga sikap kritis partainya.

“Kita berkoalisi itu pilihan kita, pilihan partai termasuk Pak Amien sendiri yang menggagas besama-sama dengan Partai Demokrat,” papar Hatta.

Muhaimin Iskandar dan Suryadharma Ali juga berhaluan tak jauh beda dengan Hatta. PKB dan PPP tampak adem ayem mendukung segala kebijakan pemerintah, sedikit agak berbeda dengan anggota koalisi lainnya yakni PKS dan Golkar yang kadang ‘berulah’.

Posisi menteri yang merangkap menjadi ketua umum partai ini dipermasalahkan, meskipun Presiden SBY sendiri tak mempermasalahkan hal itu. Anggota DPR Dari PKB Lily Wahid mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi menggugat posisi Muhaimin Iskandar yang rangkap menjabat menteri dan Ketum PKB.

Pasal yang diujikan oleh adik kandung Gus Dur ini adalah pasal 23 huruf a,b dan c UU 39/2008 tentang Kementerian Negara. Dalam pasal itu disebutkan, menteri dilarang rangkap jabatan dan memimpin organisasi yang dibiayai APBN dan atau APBD. Lily menilai, partai adalah organisasi yang didanai oleh APBN/ APBD.

Menyindir Muhaimin, Lily membandingkan keponakan Gus Dur itu dengan Tifatul Sembiring yang mundur dari Presiden PKS saat jadi menteri.

“Tifatul Sembiring mundur ketika jadi menteri dari Presiden PKS, Marzuki Alie juga mundur walaupun hanya sebagai Sekjen, kenapa Muhaimin tidak?” kata Lili kepada detikcom 25 Desember lalu.

Tindakan Lily ini harus dibayar mahal. Dia dipecat sebagai Wakil Ketua Dewan Syuro PKB. Padahal, saat melawan Gus Dur lewat Muktamar PKB versi Ancol dulu, Lily ikut berjuang ‘melawan’ kakak kandungnya yang kini telah tiada itu.

Mahkamah Konstitusi lah yang nantinya akan menjawab semua ini. Jika permohonan Lily Wahid dikabulkan, maka mau tak mau tiga menteri yang juga menjadi ketum partai di atas harus memilih antara dua jabatan itu. Karena putusan MK bersifat final dan mengikat, tanpa ada upaya hukum lain.hatta-dalam

Gus Dur dan Abu Nawas

Posted in Opini on 7 Januari 2010 by anwarkis
gusdur-lg-cover
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa 'alaa naaril jahiimi
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi

Tuhanku… aku tidak layak memasuki surga Firdaus
Tapi aku tak mampu menahan siksa api neraka

Sehingga, terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar

Begitulah, sepenggal bait syair Al I'tiraf yang sering ditampilkan oleh stasiun
televisi beberapa saat setelah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat. Lagu
tersebut seakan menyayat-nyayat hati tatkala dilantunkan oleh mantan Presiden
Indonesia itu, apalagi di saat beliau sudah tiada.

Tak bayak orang tahu, sang pencipta syair tersebut adalah pujangga besar Arab
masa pemerintahan bani Abbasiyah, Al Hasan bin Hani al-Hakami, atau yang lebih
dikenal dengan panggilan Abu Nawas.

Bagi publik Indonesia, Abu Nawas dikenal sebagai sosok yang lucu, cerdas, dan
sering melakukan hal-hal yang unik hingga membuat raja kala itu, Raja Harun Al
Rasyid di masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah  penasaran.  Akhirnya, Abu Nawas
diangkat sebagai penyair kepercayaan raja yang kala itu bertempat di Baghdad
Irak. Lalu apa hubungannya dengan Gus Dur?

Semasa hidupnya, Gus Dur adalah tokoh pengagum Abu Nawas. Sehingga wajar, jika
orang menyebut Gus Dur adalah Abu Nawas-nya Indonesia, cerdas, lucu, dan suka
membuat kontroversi. Namun di balik itu, Gus Dur dianggap sebagai tokoh yang
komitmen dengan Islam yang toleran, pluralis, sebagai simbol Islam rahmatan lil
alamiin.

Gus Dur juga mengoleksi banyak syair-syair karya Abu Nawas. Tak kurang ribuan
bait syair dia hafalkan. Hal ini diceritakan oleh mantan Menteri Pemberdayaan
Perempuan Khofifah Indarparawansa.

"Biasanya beliau sambil jalan, sambil melafalkan syiiran Abu Nawas yang saat itu
beliau masih hafal 2.000-an bait," kenang Khofifah kepada detikcom 30 Desember
2009 lalu.

"Setiap syair yang dibaca dengan lantunan khas, diterjemahkan, dieksplor,
sehingga suatu saat Pak Wimar Witoelar (jubir presiden kala itu) bilang, meski
orang sekuler, kalau sering ikut jalan pagi dengan Gus Dur bisa jadi ideolog,"
ujarnya.

Tapi dari ribuan bait syair karya Abu Nawas, Al I'tiraf lah yang paling masyhur
di tanah air. Di musala-musala kecil di kampung, syair ini dikumandangkan dengan
pengeras suara sembari menunggu sang imam datang untuk memimpin salat berjamaah.
Di pesantren-pesantren di Jawa Timur, syair ini juga sering dilantunkan.

Tak cuma itu, para artis nasional, seperti Haddad Alwi, bahkan grup nasyid asal
Malaysia, Raihan pun juga merilis syair Al I'Tiraf menjadi sebuah lagu. Dan
seperti yang telah diduga, lagu itupun laris manis di pasaran tanah air.

Pendiri Museum Rekor Indonesia (Muri), Jaya Suprana pernah menyebut syair Al
I'tiraf adalah syair tak lekang sepanjang masa. Dalam sebuah acara talkshow di
sebuah stasiun TV saat Gus Dur menjadi presiden, Jaya Suprana tampil apik dengan
piano membawakan lagu Al I'tiraf. Dalam acara talk show tersebut, hadir pula Gus
Dur sebagai salah satu tamu.

Meski seorang nonmuslim, Jaya Suprana tampak menghayati lau Al 'tiraf saat
tangannya mulai menyentuh tombol-tombol piano. Matanya tampak redup, seakan
menghayati syair demi syair lagu itu yang memang penuh makna.

Syair Al I'tiraf diilhami dari sebuah kisah seorang sahabat yang baru kembali
dari medan perang. Saat berada di pintu rumahnya, secara tidak sengaja tiba-tiba
nampak olehnya betis seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri sahabatnya
yang ketika itu sedang bertamu di rumahnya.

Seketika itu juga ia melompat keluar dari pintu dan berlari meninggalkan
rumahnya, menuju tempat yang sepi, selama bertahun-tahun, untuk bertobat kepada
Allah SWT atas ketidaksengajaannya. Rintihan tobatnya itulah yang sekarang
sering kita dengar dalam lagu Al I'tiraf.

Selamat jalan Gus. Semoga bisa bertemu dengan Abu Nawas di jannatunnaim, surga
tempat segala kenikmatan.
Delete & PrevDelete & Next
Move to: INBOX Drafts Sent Trash

Menebak Air Mata Susno

Posted in Tak Berkategori on 12 Nopember 2009 by anwarkis

Kabareskrim yang mundur sementara, Komjen Pol Susno Duadji menangis. Di hadapan jutaan mata rakyat Indonesia, pria yang selama beberapa bulan terakhir ini menjadi pusat cercaan ini akhirnya menunjukkan sisi manusianya, menitikkan air mata. Polisi juga manusia.

Drama menangisnya Susno ini terjadi saat Mabes Polri yang diwakili langsung oleh Kapolri dan jajarannya, termasuk Susno, sedang mengikuti rapat kerja dengan Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (5/11/2009) malam hingga Jumat (6/11/2009) dini hari. Susno paling menjadi pusat perhatian.

Hampir semua anggota Dewan mempertanyakan dugaan penyuapan Rp 10 miliar yang disangkakan kepadanya sesuai dengan rekaman yang diduga berisi upaya kriminalisasi KPK. Bahkan, perwakilan dari Fraksi PKS meminta kepada Susno untuk bersumpah jika benar-benar tidak menerima suap.

Menjawab tantangan tersebut, Susno tidak gentar. Pria berkacamata ini pun mengucapkan asma Tuhan untuk menyatakan bahwa dirinya tidak menerima uang Rp 10 miliar terkait dengan kasus Bank Century.

“Sebagai seorang muslim, lillahi taala, saya tidak pernah mendapatkan Rp 10 M dari siapa pun terkait dengan kasus Bank Century,” sumpah Susno sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.

Susno tampak lantang memberi pernyataan. Sedikit pun tidak ada rasa grogi dari raut mukanya. Saat hadir, dia tidak mengenakan baju seragam kebesaran Polri. Susno mengenakan jas warna abu-abu dipadu dengan dasi warna merah.

Suasana hening sangat terasa saat Susno memberikan klarifikasi. Para anggota Dewan dan kepolisian pun tampak mendengar dengan seksama penjelasan Susno.

Susno mengaku, selama menjadi ‘target utama’ dalam kasus yang memeras perhatian publik ini, keluarganya merasa malu. Bahkan istrinya malu untuk cuma sekadar keluar rumah lantaran suaminya diduga menerima uang Rp 10 miliar.

Sehingga, forum semalam dan dini hari tadi dijadikan Susno sebagai sarana untuk klarifikasi serta bantahan dirinya atas dugaan yang menjeratnya. Di akhir sambutan, Susno pun tak mampmampu membendung air matanya. Di balik matanya yang sipit, butiran-butiran air mata serta matanya yang terlihat memerah tertangkap kamera televisi yang menyiarkannya secara live.

Air mata apakah itu? Entahlah. Namun yang jelas publik mendapatkan suguhan lain dari citra yang selama ini melekat padanya.

Tak cuma menangis sedih, Susno juga menyatakan bahwa tak selamanya sesuatu yang menjadi kepercayaan dan keyakinan banyak orang adalah selalu benar. Dia mengumpamakan ribuan tahun lalu, di mana keyakinan masyarakat pada waktu itu meyakini bahwa Matahari berputar mengelilingi Bumi. Namun, belakangan, sesuai dengan fakta ilmiah, ternyata bumilah yang mengelilingi Matahari.

Kalau ditelusuri, yang Susno ceritakan adalah kisah ilmuwan legendaris Galileo Galilei yang harus menerima hukuman dari gereja lantaran bersikukuh berpendapat bahwa Bumi itu berbentuk bulat dan mengelilingi Matahari.

Jadi, ‘tangisan buaya’-kah atau tangis dari hati terdalamnya yang Susno suguhkan tadi malam? Hanya

Maafkan Aku, Lama Tak Menengokmu….

Posted in Tak Berkategori on 20 Juni 2009 by anwarkis

Oh blogku, maafkan aku. Tiga bulan aku nggak buka dan posting blog. Facebook emmang telah menggerusmu. SEtelah sebelumnya Friendster juga dipecundangi facebook.

Sebenarnya mau nulis juga malam ini, Tapi hati tak merestui. akhirnya cuma bikin coretan yang gak penting ini.

Tapi hargailah, minimal sudah menengokmu lagi. dan semoga esok lebih intens lagi.

apaan sih…

Aku Muak dengan Politik Ngartis Negeri Ini

Posted in Tak Berkategori with tags on 8 Maret 2009 by anwarkis

Perkembangan terbaru perpolitikan dalam negeri semakin mengkhawatirkan. Selain tingkah polah para politisi yang makin membikin muntah, wajah-wajah politisi ‘dadakan’ membuat aku tak kalah enegnya.

KenaAppearancepa kusebut dadakan, lihat saja, para caleg yang tiap hari nongol di TV adalah mereka-mereka yang sebenarnya menurutku adalah ‘sampah’. Sampah yang selama ini justru membuat bangsa kita menjadi bangsa penggosip, bangsa yang rendahan, murahan, dan apalah itu. Mereka itu, adalah artis-artis yang hanya menonjolkan tampang, lekukan tubuh, dan ketenaran. Tak lupa, pundi-pundi rupiah jugalah yang membuat nama mereka bertengger di daftar caleg yang siap dicontreng.

Bayangkan, seorang artis penyanyi dangdut yang selama ini hanya tampil karena kemolekan tubunya dengan suara yang pas pasan, kini tampil dalam sebuah forum debat partai yang terhormat. Bisa ditebak, bahasa-bahasa sampah lah yang keluar dari mulutnya.

Tak kalah dengan si artis dangdut ini, seorang pelawak, artis sinetron dan presenter di berbagai acara televisi tiba-tiba ngomong masalah kemiskinan, keterbelakangan pendidikan. Dia mencontohkan kondisi sebuah pesatren di suatu daerah yang disambanginya. Sebagai caleg, dia merasa terenyuh, melihat pesantren itu yang tak ubahnya seperti kandang kambing. Dalam hati aku berfikir, ini orang kok tiba-tiba kayak pahlawan kesiangan ya….

Tak Cuma itu saja, para artis yang dulu tahunya hanya dunia glamour kini tiba-tiba sok membela kaum lemah. Di depan layar kaca yang palsu itu, mereka sok peka dengan nasib para dhuafa, janji-janji palsu mereka gelontorkan dengan tanpa merasa bersalah..Tambah muak rasanya. Entah kenapa, tiba-tiba aku malam ini merasa marah kepada mereka, meski sebenarnya aku nggak punya hak.

Apa jadinya bangsa kita kalau ke depan wakil-wakil rakyat diisi oleh mereka. Sudah barang pasti, dunia parlemen yang selama ini hanya panggung sandiwara malah tambah palsu, dihiasi oleh orang-orang yang palsu, yang bisanya hanya bias berakting. Naudzubillah min dzalik…

Memang mereka punya hak untuk itu. Dan undang-undang pun melegalkan mereka untuk melakukan hal itu. Tapi apakah mereka tidak berkaca…bahwa tidak mudah untuk menjadi seorang wakil rakyat dengan bekal kemampuan yang seuprit. Bodohnya lagi, rakyat kita malah sangat permisif dengan orang-orang macam mereka. Dan tidak menutup kemungkinan para artis inilah yang nantinya terpilih. Meski aku juga tak menutup mata, beberapa artis juga punya kemampuan yang layak ‘dijual’ kepada rakyat.

Meminjam istilah Komandan Naga Bonar, Deddy Mizwar yang tiba-tiba juga nyapres, ‘apa kata dunia’ jika mereka-mereka ini yang terpilih?? Malu aku sebagai bagian dari bangsa ini……