Naik KRL ke Bogor, Mulai dari Salah Gerbong Sampai Salah Beli Tiket

25 Apr 2011

Senin 18 April saya semangat sekali. Bukan karena hari itu gajian, tapi lantaran saya akan naik kereta untuk liputan ke Istana Bogor. jarang sekali naik kereta di Jakarta, apalagi untuk sebuah liputan: tidak pernah malah.

Harusnya, saya naik manwar11obil pregio yang disediakan pihak Istana Kepresidenan untuk meliput rapat kerja ekonomi di Istana Bogor. Tapi yang bikin males, harus ngumpul jam setengah 6 pagi di istana, padahal kan acara di Bogor baru jam 2 siang. Akhirnya, mencoba naik kereta menjadi pilihan menarik.Tak perlu berangkat pagi-pagi untuk naik KRL.

Kebetulan kos saya tak jauh dari Stasiun Cawang. Tiba di Stasiun Cawang jam 10.00 WIB. Saya sempat tanya dulu kepada tukang ojek apakah ada kereta yang langsung ke Bogor. Ternyata ada, dan memang kata teman saya juga ada kereta AC Ekonomi jurusan Jakarta Bogor..Saya pun beli tiket dengan santai…

“Tapi kok harganya cuma Rp 2.000 ya.” tanya saya dalam hati. Ah, memang mungkin harganya segitu, namanya juga kereta ekonomi, meski ber AC. Maklum, ini kali kedua saya naik KRL selama 4 tahun lebih di Jakarta. Tepat pukul 10.30 kereta yang saya tunggu tiba….wus wus……

Pas naik gerbong, ternyata kursi sudah penuh ditempati para penumpang..Saya pun bergelantungan di tempat yang disediakan…Tapi kok orang-orang pada memandangi saya ya? “Apakah saya terlalu rapi untuk naik kereta AC Ekonomi?” dalam hati saya terlalu confidence. haha..

“Mas-mas, salah gerbong, ini khusus gerbong untuk perempuan…” teriak ibu-ibu setengah baya. Owalah, saya baru nyadar, ternyata heboh-heboh berita soal gerbong untuk perempuan, benar adanya. Saya pun kabur nyari gerbong lain.

Tiba di gerbong lain, eh ternyata ada sesama wartawan Istana yang juga berangkat naik kereta. Ada Mas Teguh Eslhinta, Dodo fotografer Antara, Bunga dan Muno yang sama-sama wartawan tempo, dan Mbak Camelia, wartawan Jakarta Globe. Di kereta itu, saya merasa seperti nunggu SBY sidang kabinet, lantaran banyak ketemu wartawan Istana. :)

Tiba saat pengecekan karcis oleh petugas, saya sih santai saja. Saya beli karcis kok, nggak kayak bonek-bonek yang nangkring di atas kereta. Tapi saat dua temen saya mengeluarkan karcis warna ijo dan ada tulisannya harga Rp 5.500, saya mulai panik. Tapi dalam hal apapun, seorang wartawan tak boleh panik, harus mengeluarkan jurus-jurus maut agar tidak malu (padahal dalam hati malu banget).

Saat mengeluarkan tiket yang cuma seharga Rp 2.000, saya bilang ke petugas itu kalau saya tadi udah bilang ke loket kalau saya beli tiket AC ekonomi. Saya pun pasrah menerima sanksi apapun dari petugas securiti yang sebenarnya kerempeng itu. Akhirnya saya diminta untuk membayar denda dua kali lipat dengan membeli tiket suplisi atau apa itu lupa namanya.

Lucunya, sang petugas kok malah yang kelihatan malu-malu ya nagih ke saya. Saat saya membayar dan dan dapat tiket baru, temen saya mengabadikan pake kamera BB, sang petugas tambah tersipu-sipu malu. Kalau tau kita wartawan, mungkin kita digratisin. Tapi apakah harga diri kita mau ditukar dengan Rp 10.000? Tentu tidak!! hehe

Sepanjang perjalanan hingga akhirnya sampai ke Bogor, saya dan teman-teman pun ngakak mengingat kejadian yang memalukan itu.

“Yang salah itu kamu, tapi kok kamu nggak malu, malah petugasnya yang malu-malu nagih,” kata teman saya.

“Malu cukup dalam hati saja,” bisik saya dalam hati…


TAGS


-

Author

Follow Me